Selasa, 29 Oktober 2013

Badan peneliti asal Jepang luncurkan meriam penembak asteroid







Merdeka.com - Para peneliti asal Jepang siap menembak sebuah asteroid untuk membuat satu kawah dan melakukan penelitian atas kandungan yang dimiliki asteroid tersebut.

Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) menjelaskan bahwa mereka berhasil menyempurnakan sebuah meriam besar dengan peluru besi yang nantinya akan dipergunakan untuk menembak sebuah asteroid.

Dikutip dari ABC (24/10), para peneliti tersebut menjelaskan bahwa proyek yang bernama Hayabusa 2 ini telah berhasil dikembangkan sesuai dengan perkiraan dan tepat pada waktunya.

"Pengembangan proyek Hayabusa-2 sesuai dengan yang direncanakan," jelas juru bicara JAXA.

Rencananya, meriam tersebut akan diangkut ke angkasa dengan menggunakan roket bernama H2A yang diluncurkan pertama kali di suatu daerah di selatan Jepang.

Proyek ini akan mengambil sample dari sebuah asteroid yang bernama 1999JU3 yang diperkirakan akan memiliki jalur lintasan di dekat bumi sekitar tahun 2018 mendatang.

Ketika asteroid tersebut mendekati bumi, Hayabusa-2 akan langsung mendarat di permukaan batu angkasa itu dan menembakkan peluru untuk membuat suatu kawah.

Dari hasil tembakan tersebut, dipastikan akan muncul pecahan kecil dan debu. Sampel berupa pecahan dari asteroid dan debu itulah yang akan dibawa oleh Hayabusa-2 ke bumi.

Dari sampel tersebut, diharapkan nantinya akan ditemukan berbagai hal seperti asal muasal asteroid itu sampai dengan kandungan air karena 1999JU3 diperkirakan berbeda dengan asteroid lain dan memiliki kandungan air.

Hayabusa-2 akan diluncurkan pada tahun 2014 mendatang dan diperkirakan akan kembali ke bumi dengan membawa sampel dari 1999JU3 ini pada tahun 2020.
[das]

sumber :
http://www.merdeka.com/teknologi/badan-peneliti-asal-jepang-luncurkan-meriam-penembak-asteroid.html

Comeback!!!

Dah lama buangeet gak ngepost..

Jumat, 21 Desember 2012

Galaksi Tertua di Semesta Ditemukan




Gambar besar di bagian kiri menunjuk kluster galaksi MACS J11492223. Teknik mikro lensa gravitasi membesarkan cahaya dari galaksi yang baru saja ditemukan, MACS1149-JD sebanyak 15 kali, membuat objek yang terpencil ini bisa terlihat.



Astronom menemukan galaksi tertua di semesta. Galaksi itu berumur 13,7 miliar tahun dan terbentuk hanya 200 juta tahun setelah Big Bang, mengonfirmasi kemungkinan eksistensi galaksi segera setelah kelahiran semesta.


"Kami merasa seperti arkeolog dengan fosil pre-Neanderthal di tangan," kata Wei Zhang, astronom dari John Hopkins University, pemimpin studi, seperti dikutip Space.com, Rabu (19/9/2012).


Galaksi ini ditemukan dengan bantuan Teleskop Antariksa Hubble dan Spitzer. Eksistensi galaksi dideteksi dengan teknik mikro gravitasi. Teknik ini juga digunakan untuk deteksi materi gelap ataupun bintang-bintang yang jauh dan redup.


Menurut astronom, galaksi tertua ini terbentuk pada periode yang disebut masa reionisasi, 150-800 juta tahun lalu. Pada masa ini, ultraviolet mengionisasi kabut atom hidrogen menjadi proton dan elektron yang membentuknya.


"Ini memberi kita petunjuk penting akan proses pembentukan bintang dan galaksi pada masa 300-500 juta tahun setelah Big Bang," kata daniel Stark, astronom dari University of Arizona di Tucson.


Penemuan Zheng, kata Stark, memang hanya menunjukkan penemuan satu buah galaksi. Namun, penemuan ini bisa menjadi gambaran aktivitas semesta pada periode pembentukan galaksi yang dimaksud.


Zheng menuturkan, sebab radiasi pada masa reionisasi masih jadi misteri. Zheng meyakini, karena penemuannya dibuat hanya dengan mengobservasi "petakan" langit yang kecil, masih ada banyak galaksi lain yang terbentuk pada masa yang sama.


Penemuan ini dipublikasikan di jurnal Nature, Kamis (20/9/2012).


sumber : kompas.com