Jumat, 21 Desember 2012

Galaksi Tertua di Semesta Ditemukan




Gambar besar di bagian kiri menunjuk kluster galaksi MACS J11492223. Teknik mikro lensa gravitasi membesarkan cahaya dari galaksi yang baru saja ditemukan, MACS1149-JD sebanyak 15 kali, membuat objek yang terpencil ini bisa terlihat.



Astronom menemukan galaksi tertua di semesta. Galaksi itu berumur 13,7 miliar tahun dan terbentuk hanya 200 juta tahun setelah Big Bang, mengonfirmasi kemungkinan eksistensi galaksi segera setelah kelahiran semesta.


"Kami merasa seperti arkeolog dengan fosil pre-Neanderthal di tangan," kata Wei Zhang, astronom dari John Hopkins University, pemimpin studi, seperti dikutip Space.com, Rabu (19/9/2012).


Galaksi ini ditemukan dengan bantuan Teleskop Antariksa Hubble dan Spitzer. Eksistensi galaksi dideteksi dengan teknik mikro gravitasi. Teknik ini juga digunakan untuk deteksi materi gelap ataupun bintang-bintang yang jauh dan redup.


Menurut astronom, galaksi tertua ini terbentuk pada periode yang disebut masa reionisasi, 150-800 juta tahun lalu. Pada masa ini, ultraviolet mengionisasi kabut atom hidrogen menjadi proton dan elektron yang membentuknya.


"Ini memberi kita petunjuk penting akan proses pembentukan bintang dan galaksi pada masa 300-500 juta tahun setelah Big Bang," kata daniel Stark, astronom dari University of Arizona di Tucson.


Penemuan Zheng, kata Stark, memang hanya menunjukkan penemuan satu buah galaksi. Namun, penemuan ini bisa menjadi gambaran aktivitas semesta pada periode pembentukan galaksi yang dimaksud.


Zheng menuturkan, sebab radiasi pada masa reionisasi masih jadi misteri. Zheng meyakini, karena penemuannya dibuat hanya dengan mengobservasi "petakan" langit yang kecil, masih ada banyak galaksi lain yang terbentuk pada masa yang sama.


Penemuan ini dipublikasikan di jurnal Nature, Kamis (20/9/2012).


sumber : kompas.com






Tujuh Galaksi Primitif Terintai Teleskop Hubble



Teleskop antariksa Hubble milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat, NASA, mengungkap tujuh galaksi primitif dari masa awal jagat raya. NASA mengumumkannya, Rabu (12/12/2012) lalu.

"Fajar kosmos ini bukan tercipta dari satu peristiwa yang dramatis," kata Richard Ellis dari California Institute of Technology di Pasadena. Galaksi itu tercipta lewat proses ratusan juta tahun.

Menggunakan teleskop Hubble, Ellis mengintai wilayah kecil langit selama ratusan jam dan mengidentifikasi isinya. Sebanyak tujuh galaksi primitif ditemukan.

Satu galaksi yang ditemukan dinobatkan sebagai yang tertua di jagat raya terbentuk saat semesta baru berusia 380 juta tahun. Sementara itu, 6 galaksi lainnya terbentuk antara 380 juta tahun dan 600 juta tahun lalu.

Abraham Loeb, pakar sejarah awal semesta di Harvard University seperti dikutip National Geographic, Rabu lalu, mengungkapkan, "Gambar ini seperti citra pertama USG dari embrio. Ini adalah pembangun galaksi yang kita punya saat ini."

Galaksi primitif yang ditemukan memiliki densitas lebih tinggi dan lebih dekat satu sama lain. Pada saat yang sama, galaksi tersebut lebih redup.

Citra tujuh galaksi ini diperoleh dengan Hubble Wide Field Camera 3. Jarak galaksi yang ditemukan dengan Bumi diperkirakan dengan warnanya.

Di akhir dekade ini, NASA mempersiapkan James Webb Space Telescope yang lebih mumpuni dari Hubble. Jika Hubble saja bisa mengungkap misteri awal semesta, teleskop Webb akan memberi harapan bagi manusia untuk melihat kondisi semesta sesaat setelah dilahirkan.

suber : kompas.com

21-12-2012, Bukan Kiamat melainkan "Winter Solstice"




Terlepas dari isu kiamat yang didasarkan pada kesalahan interpretasi kalender panjang Suku Maya, Jumat (21/12/2012) adalah hari yang cukup istimewa dalam astronomi. Hari ini disebut "winter solstice" atau sederhananya permulaan musim dingin di belahan utara Bumi.


Winter solstice adalah buah dari gerak semu tahunan Matahari yang disebabkan oleh dinamika poros Bumi. Peristiwa ini jugalah yang menyebabkan negara-negara di kawasan subtropis memiliki empat musim.

Gerak semu tahunan Matahari dimulai antara tanggal 21 dan 22 Maret ketika Matahari berada di ekuator. Setelahnya, Matahari bergerak ke utara mencapai 23,5 derajat LU pada 21 Juni. Terjadilahsummer solstice. Belahan utara mulai musim panas, belahan selatan mulai musim dingin.

Dari utara, Matahari akan bergerak ke selatan lagi dan mencapai ekuator antara tanggal 22 dan 23 September. Pada saat ini, Matahari dikatakan mencapai autumnal equinox. Saat ini, belahan selatan Bumi mulai mengalami musim semi.

Matahari akan terus bergerak ke selatan hingga pada 21-22 Desember mencapai koordinat 23,5 derajat LS. Sesudahnya, Matahari akan bergerak lagi ke utara, mencapai khatulistiwa atau vernal equinox pada 21-22 Maret tahun berikutnya.

Joe Rao dari Hayden Planetarium, New York, dalam artikelnya di Space, Kamis (20/12/2012), mengatakan bahwa untuk tahun ini, Matahari akan berada di 23,5 derajat LS sekitar pukul 18.12 WIB. Belahan utara Bumi akan mengalami hari terpendek dan malam terpanjang.

Winter solstice memiliki banyak makna pada beragam kebudayaan sehingga dirayakan. Di Persia,winter solstice menandai kelahiran Mithra, Raja Matahari. Di China, ada perayaan Dongzhi. Kala itu, keluarga berkumpul untuk makan makanan spesial.

Roma masa lalu juga merayakan winter solstice lewat perayaan Saturnalia, memperingati Dewa Saturn, pemberi berkah pada pertanian. Pada tahun 275, Kerajaan Roma Aurelian mengatakan, perjamuan tepat pada winter solstice, Die Natalis Invicti Solis.

Perayaan winter solstice sudah berlangsung ribuan tahun. Tak ada alasan untuk merayakannya sebagai kiamat hari ini. Justru, ini adalah permulaan. Bagi Suku Maya, ini berarti permulaan masa baru, kalender baru.

sumber : Kompas.com